KSG EDISI 5 TAHUN 1
Home
Artikel Lalu
LAPORAN UTAMA
WAWANCARA
SEPUTAR KSG
RAGAM
ORKESPEN
KRAKATAUSIANA
INFORMASI
Sistem Rawat Jalan
Bapelkes
MPP & Pensiun
COMDEV

Jangan Menaruh Mangkok Terbalik
Thursday, 05 October 2006
Oleh: Makmur Salaby

Pada akhir bulan sya’ban Rasulullah SAW bersabda : “Wahai manusia ,sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung lagi penuh berkah, bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, bulan yang didalamnya Allah telah menjadikan puasa sebagai fardlu , dan bangun malam sebagai sunah, barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah didalamnya dengan beramal sunah maka pahalanya setara dengan amal wajib pada bulan lainya, barang siapa yang beramal fardlu didalamnya maka pahalanya seperti orang yang melakukan tujuh puluh amalan fardlu pada bulan lainya. Inilah bulan kesabaran ,dan pahala sabar adalah surga” Inilah bulan kasih sayang , bulan saat rezeki seorang mukmin ditambah. Demikian besar kasih sayang Allah kepada kita.

Read more...
 
Mengenal Keagungan & Kesucian Al-Qur'an
Wednesday, 05 April 2006

Oleh : Wahid Abdullah

Rasa bangga sekilas menyelimuti perasaan ini, karena PT Krakatau Steel di bawah kepemimpinan Ir. Daenulhay dan Dana Pensiun Krakatau Steel di bawah kepemimpinan Ir. Hadi Purnomo, pengajian tetap semarak.

Intinya agar pemirsa dapat mengenal lebih jauh tentang keagungan dan kesucian Al?-Qur’an sebagai pedoman hidup yang dapat mencegah manusia dari berbuat sewenang?-wenang.

Akhir‑akhir ini sering sekali kita saksikan di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, terjadinya aksi kerusuhan atau teror di berbagai daerah di tanah air tercinta dengan mengatas namakan Islam, padahal Al‑Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam menuntun pemeluknya untuk selalu memiliki sifat kasih sayang, harga?-menghargai, dan toleransi antar sesama, terlepas dari apapun agama yang dianut, karena Allah SWT telah memberikan batasan sebagaimana disebutkan dalam Firman‑Nya berikut ini :

“Walaa ana aabidummaa abattum, walaa antum aabidunaa maa a’bud. Lakum diinukum waliyadiin”

"Dan aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah, dan kamupun tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kanulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (QS. Al‑Kaafiruun : 4‑6 ).

Dengan berpedoman pada ayat tersebut marilah kita bersama‑sama menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama, khususnya di Kota Baja Cilegon dan sekitarnya agar kedamaian dan ketentraman tetap terjaga dan terpelihara.

Anehnya, pelaku bom bunuh diri beranggapan bahwa matinya tergolong Syahid, padahal sesungguhnya mati dengan cara demikian adalah mati konyol dan dilaknat oleh Allah SWT, karena dengan perbuatannya itu menyebabkan orang‑orang yang tidak berdosa ikut menjadi korban. Hal ini terjadi karena orang‑orang sudah mulai lupa membaca Al‑Qur’an, padahal keagungan dan kesucian Al‑Qur’an dapat meredam gejolak, sekalipun hati menjadi panas bagai api dalam sekam.

Ada baiknya penulis ketengahkan sebuah kisah nyata dari salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang kemudian menjadi Khalifah Islam kedua yaitu Umar Ibnu Khattab sebelum beliau memeluk agama Islam.

Sewaktu masih berada di Makkah, Umar Ibnu Khattab dikenal sebagai bentengnya Arab dari suku Qurais dan dijuluki Singa Padang Pasir karena keberaniannya. Pada suatu saat Umar Ibnu Khattab mendapat laporan bahwa orang‑orang yang ada dalam sukunya banyak yang beralih memeluk agama Islam secara sembunyi‑sembunyi. Hati Umar Ibnu Khattab naik pitam dan murka bukan kepalang setelah mendengar berita itu, dan sambil menghunus pedang yang mengkilat, berlari mencari Nabi Muhammad untuk dibunuhnya, karena menganggap Muhammad sebagai biang keladi yang menyebabkan banyak sukunya yang menyimpang meninggalkan agama nenek moyang. Allah maha besar, karena pada saat itu Nabi Muhammad sedang mengajar di rumah Darul Arqam sehingga tidak ditemui, dan sebelum mengetahui di mana nabi Muhammad berada, tiba‑tiba Umar Ibnu Khattab mendapat laporan bahwa adiknya Fatimah telah memeluk agama Islam. Dengan badan gemetar karena menahan amarah, Umar Ibnu Khattab mengurungkan niatnya untuk memburu nabi Muhammad dan balik menuju rumah adiknya Fatimah.

Dengan wajah bagai dipanggang bara dengan nafas yang menggemuruh, Umar Ibnu Khattab langsung mendobrak pintu rumah adiknya Fatimah, dan didapatinya Fatimah sedang membaca ayat‑ayat Al‑Qur’an bersama Said suaminya. Dengan kemarahan bagai gunung berapi hendak meledak, Umar mencengkeram adiknya dan kemudian memukul pipinya.

Badan Umar Ibnu Khattab gemetar karena menahan marah yang mencapai klimaksnya, tetapi sejenak merasa heran menyaksikan adiknya Fatimah begitu tabah menghadang kemurkaannya, tidak seperti Ia ketahui selama ini. Timbul pertanyaan dalam hati Umar, kekuatan mana yang mampu membuat adiknya Fatimah berani menghadapi kematian? Seperti apakah ayat‑ayat Al‑Qur’an itu sehingga mengubah adiknya sanggup menahan kesakitan?

Kembali Umar Ibnu Khattab memaksa dan ingin mendengarkan kalimat‑kalimat yang dibaca Fatimah, dan tatkala kata demi kata dari surat Thaahaa berkumandang dari mulut Fatimah, spontan hati Umar begitu tersentuh sampai‑sampai badannya tersungkur ke bumi dan menangis tersedu‑sedu. Dalam hatinya berkata bahwa ayat‑ayat ini bukan karangan Muhammad, tetapi benar‑benar wahyu dari Tuhan karena sungguh indah, damai, dan syahdu. Bunyi ayat‑ayat tersebut sebagai berikut :

“Thaahaa. Maa anzalnaa 'alaikal Qur’aana litasyqoo. Illaa tadzkirotal limay yakhsyaa”

“Kami tidak menurunkan Al‑Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaahaa : 1‑3)

Tiba‑tiba Umar Ibnu Khattab merasa seperti lahir kembali menjadi manusia baru yang tidak lagi dipenuhi dendam dan benci dan ingin lebih banyak lagi mendengar Firman Allah yang santun dan sejuk itu, serta ingin membaca ayat‑ayat tersebut tetapi oleh Fatimah ditolak dengan bahasa yang santun, “Abang belum bisa menyentuhnya karena ini adalah wahyu Allah, kecuali jikalau abang sudah berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.”

Dengan penuh keyakinan akan kebenaran ayat‑ayat tersebut, Umar bergegas keluar dari rumah Fatimah untuk menemui nabi Muhammad SAW, tetapi kedatangannya kali ini bukan sebagai musuh, melainkan sebagai seorang biang kejahatan yang ditaklukkan oleh ketabahan dan kebijaksanaan dan selanjutnya beliau berikrar memeluk agama Islam.

Dengan cuplikan kisah nyata ini, kembali kita disadarkan bahwa keagungan dan kesucian Al‑Qur’an benar‑benar teruji kebenarannya, akan tetapi sangat disayangkan karena saat ini banyak umat Islam tidak bisa membaca Al‑Qur’an, padahal umat Islam di negeri ini sebagai mayoritas.

Lebih kurang tiga puluh tahun silam ketika pertama kali penulis menginjakkan kaki di Kota Baja Cilegon, seluruh perkampungan di kawasan PT Krakatau Steel Cilegon saat itu belum tersentuh listrik, dan kalau berjalan di malam hari melewati rumah-?rumah orang islam masih terdengar suara anak‑anak dan orang tuanya yang sedang melaksanakan tadarus Al‑Qur’an, akan tetapi saat ini yang berkumandang mengalunkan ayat‑ayat Al‑Qur’an hanyalah pesawat televisi sendiri pada saat‑saat tertentu, dan itupun pemilik pesawat televisinya entah kemana. Sebaliknya bila pesawat televisi menayangkan lagu‑lagu dangdut atau lagu pop, maka penghuni rumah kembali berkumpul didepan pesawat televisi.

Ada baiknya mari kita renungi ucapan Rasulullah SAW kepada para sahabat tentang nasib umat Islam di kemudian hari.

Beliau berkata, “kelak kalian akan menjadi umat yang diperebutkan oleh umat?umat yang lain, laksana mereka memperebutkan makanan yang lezat.” Salah seorang sahabat bertanya, apakah pada saat itu jumlah umat Islam sedikit? Tidak, jawab Rasulullah. Bahkan pada saat itu kalian adalah umat yang mayoritas, akan tetapi kualitas kalian ibarat buih di lautan, jumlahnya banyak tetapi terombang-ambing, karena pada saat itu kalian terserang penyakit wahn. Apakah wahn itu ya Rasulullah? Tanya sahabat yang lain. Rasulullah diam sejenak kemudian menjawab, ketahuilah oleh kalian bahwa wahn adalah cinta yang berlebihan kepada dunia dan takut yang amat sangat kepada kematian.

Nah! Ucapan Rasulullah SAW ini lebih kurang seribu empat ratus tahun silam, gejalanya saat ini sudah mulai terlihat. Dan oleh karena itu sudah saatnya kita meningkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah SWT dengan mengenal lebih jauh keagungan dan kesucian Al‑Qur’an, jangan sampai kelak di akhirat hanya pesawat televisi yang dimasukkan ke surga karena sering mengumandangkan ayat‑ayat Al‑Qur’an, sedangkan pemiliknya mungkin terlunta‑lunta dalam kubangan api neraka? Nauuzdhu billah, semoga tidak terjadi hal yang demikian kepada kita, karena tidak ada istilah terlambat untuk memulai kembali membaca Al‑Qur’an, paling tidak sekali dalam satu minggu!!! Semoga...***
 
Belajar IKHLAS dari Akar Pohon
Thursday, 21 September 2006
Marilah sejenak kita perhatikanlah dengan seksama sebatang pohon yang rindang daunnya dan berbuah lebat yang ada disekitar kita, di halaman depan, samping atau belakang rumah atau di sekitar lingkungan kantor dimana kita biasanya bekerja. Kita sependapat bahwa dari hasil pengamatan kita tersebut akan tampak suatu kondisi struktur pepohonan yang terdiri dari buah merupakan unsur yang sangat dominan dalam benak pikiran kita, karena memang buah merupakan hasil yang secara langsung dapat kita nikmati bagaimana rasanya yang enak dan menyegarkan, kemudian rindangnya dedaunan, baru kemudian kita melihat ranting, dahan dan pohon yang kokoh, sedangkan akar yang merupakan struktur tanaman yang menempati posisi paling penting, strategis dan utama sama sekali luput dari pengamatan kita, padahal seluruh bagian pepohonan menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada akar, batang, dahan, ranting, daun, bunga terlebih lagi buah sangat tergantung kelangsungan hidupnya pada akar.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 5 of 8

All Materials published are the property of ksg owners.
Any commercial use is forbidden.
Majalah KSG Online Supported by Krakatau Information Technology
maintained by B1 on BackStage