Krakatau IT News

Home arrow Article arrow Sempil arrow Nurani Guru
Nurani Guru PDF Print E-mail


ImageKalimat-kalimat itu bagaikan keluar dari mitraliur. Bukan sumpah serapah, bahkan juga bukan keluhan, tetapi fakta-fakta penyimpangan di lapangan seputar pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMU. Jelas dibelakang kalimat-kalimat itu tercermin keprihatinan yang sangat dalam dari nurani yang terkoyak. Tak terbayangkan semua bakal terjadi pada saat usianya menginjak 40 tahun, dengan lebih dari 15 tahun diantaranya didedikasikan menjadi pendidik.

Cita-cita sebagai guru, sebagai pendidik masyarakat telah ditorehkan sejak usia muda. Pilihan profesi yang pasti disadari dengan konsekuensi pengorbanan untuk tidak menjadi orang kaya. Kesadaran pada resiko dan tanggung jawab profesi guru telah dikenalnya luar-dalam, karena ayahnya tercinta juga mengabdikan diri sebagai seorang guru.

Profesi Guru memang hanya salah satu pilihan dari ribuan alternatif profesi lain. Tetapi profesi ini memiliki karakteristik yang agak khusus. Dipundaknya tanggung jawab pada masa depan ribuan ummat manusia. Dipundaknya, moral masyarakat, moral bangsa kedepan dipertaruhkan. Dipundaknya pula keunggulan daya kompetitif bangsa dipertaruhkan. Ketangguhan mental, kemampuan skill murid-murid menjadi obsesi setiap guru. Begitu pula dengan Sang Tokoh kita.

Meskipun masih terdapat perdebatan panjang, tetapi tetap Ujian Nasional telah diputuskan menjadi standar kelulusan bagi siswa-siswi SMU, SMK, MA, SMP, MTs beberapa tahun silam. Dengan ujian nasional diharapkan tercipta standarisasi kualitas sekolahan baik di kota maupun di desa, di Jawa maupun diluar Jawa, Sekolah umum maupun Madrasah. Pendeknya secara horizontal tidak ada kesenjangan kualitas pendidikan antar sesama warga bangsa.

Secara vertikal, diharapkan juga kualitas pendidikan nasional didongkrak menjadi setara dengan negara-negara maju. Rangking kualitas SDM kita yang diatas 100 -dibandingkan dengan 150-an negara-negara dunia mejadikan kita tidak memiliki daya saing yang memadai saat persaingan bebas dibuka. Dengan demikian keinginan Diknas mengupayakan dengan meningkatkan standarisasi pendidikan dengan cara meningkatkan standar kelulusan setiap tahun adalah hal yang wajar.

Sebagai guru, pelaksana kebijakan pendidikan nasional, Sang Tokoh tak hendak mengutak atik keputusan tersebut, dan memang sikap keras Pak Menteri terlalu susah untuk diajak kompromi. Tetapi nurani tak hendak dapat dibohongi, ketika sekolahan tempat mengabdi membentuk “Tim Sukses” untuk “mensukseskan” murid-murid SMU-nya agar “lancar” dalam mengikuti Ujian Akhir Nasional. Memang ada dana khusus apabila sekolahan memiliki tingkat kelulusan yang tinggi.

Nuraninya juga tergores, saat mendengar keluhan seorang guru matematika, dimana sehari sebelum UAN berlangsung, beberapa murid meminta tolong menjawabkan beberapa soal matematika. Sahabatnya baru sadar ketika esok hari pertanyaan yang diajukan Si Murid ternyata soal-soal yang keluar di UAN. Ah betapa bejatnya orang jaman sekarang, sudah mencari bocoran, meminta gurunya untuk menjawabnya lagi! Ah, haruskah kita menempatkan guru jujur bak seperti seorang ustadz naif disarang penyamun?

Sang Tokoh tak habis pikir, ketika beberapa muridnya yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata, tiba-tiba mendapatkan angka 9 dalam UAN. Ketika akan dilakukan test uji keshahihan, Si Murid cepat-cepat ngacir, kabur entah kemana.

Sang tokoh juga tak habis pikir, ketika anak sahabatnya termasuk siswa yang tidak lulus, oleh teman-temannya disalahkan karena tidak mau dikasih bocoran soal. Ah….kata apalagi yang tepat untuk gejala seperti ini. Siapa yang salah siapa yang benar?

***

Pak Menteri, benar kata Bapak, IPB, UGM, ITB yang telah meloloskan Ujian Masuk beberapa siswa-siswi SMU yang pada akhirnya tidak lulus UAN harus introspeksi diri. Tetapi bukankah yang lebih pantas introspeksi diri adalah Bapak Menteri? UAN adalah proyek baru, baru berjalan beberapa kali, dan masalah penyimpangan sudah ribuan kali disajikan. IPB, ITB, UGM, dan berbagai PTN terkemuka lainnya telah memiliki program PMDK sudah sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, dan tidak terdengar keluhan yang berarti! Haruskah sistem yang bagus berintrospeksi pada sistem yang banyak bolongnya?

Juga benar kata Bapak, siswa-siswi yang tidak lulus harus siap mental. Tetapi mental yang mana yang harus dikuatkan? Mental menghadapi kekalahan yang terhormat, atau mental menghadapi ketidak adilan perlakuan. Apakah kita harus mendidik generasi muda bangsa ini dengan kepura-puraan, kelulusan yang instant, se-instant seperti kita membuat mie instant. Atau kita ingin membangun generasi muda dengan tolok keberhasilan didasarkan pada seberapa banyak dukungan SMS yang masuk? Haruskah Bapak/Ibu guru yang masih setia mengawal bangsa ini dengan nurani, harus dilecehkan, karena semua teori, semua pelajaran yang diberikan hanya membuat lulus menjadi sulit? Entahlah.

(Sudarmono Moedjari, Mantan Ketua HMI Cabang Surabaya 1986-1987, anggota Litbang PB Al-Khairiyah, Anggota PD Muhammadiyah Cilegon, alamat email: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )
 
< Prev   Next >
PT Krakatau Infomation Technology
Krakatau Steel Group
Wisma Baja 7th Floor Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 54 Jakarta telp +62215200732 fax: +62215200690
Gedung Krakatau IT Jl. raya Anyer Km. 3 Cilegon telp +622548317021 fax: +622548317022

Copyright © 1993 - 2012 PT. Krakatau Information Technology
Maintained on backstage by IT DIVISION
Framework By Joomla