| Membangun Peradaban Baru Banten (2) |
|
|
|
|
Oleh: Sudarmono Moedjari
Banten 1800-an. Akhirnya Edouard Douwes Dekker harus menelan pil pahit, terpental dari birokrasi kolonial, tinggal miskin pada kamar atas loteng sebuah penginapan In de kleine prins, di rue (jalan) de la Fourche nomor 52 Brussel – Belgia. Dalam keterasingan, kemiskinan, tekanan politik inilah epik tentang tanah Banten tahun 1800-an ditulis. Barangkali ketakutan akan tekanan tambahan akibat pembelaannya bagi rakyat Banten memaksa Douwes Dekker menyamarkan nama aslinya menjadi Multatuli (Latin: aku yang menderita). Tulisan yang pada akhirnya menggemparkan tanah Belanda. Max Havelaar sebuah kisah roman paling menyedihkan tentang penderitaan rakyat Banten yang ditulis Multatuli. Sebelumnya, sebagai orang nomor 2 di Banten – Asisten Residen Karesidenan Lebak tidak banyak yang bisa dilakukan. Kekejaman birokrasi Belanda maupun Pribumi sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Inilah yang menambah luka hati kemanusiaannya. Memang sudah 20 tahun mengabdi sebagai pegawai di Hindia Belanda Douwes Dekker telah banyak melihat ketimpangan birokrasi di bumi kolonial ini. Tetapi cukup 4 bulan di Banten, hatinya benar-benar teriris. Bupati Lebak dibantu Demang Parangkujang yang juga mantu sang Bupati kala itu, melakukan banyak praktik penindasan terhadap penduduk Banten. Penduduk yang selayaknya dilindungi, alih-alih mendapatkan pembinaan, peningkatan derajat kemanusiaan, pencarian lapangan kerja, atau perlindungan dari kesewang-wenangan. Mereka justru mendapatkan penindasan demi penindasan, bahkan oleh langsung dilakukan oleh saudara sebangsa! Saat Bupati Lebak kedatangan tamu agung Bupati Cianjur (lagi-lagi juga kerabat dekat Bupati Lebak) dan Bupati memerintahkan penduduk melakukan kerja rodi (wajib kerja tanpa upah) di rumah dinas Bupati untuk mempersiapkan segala sesuatu atas kedatangan tamu agung tersebut. Douwes Dekker menjadi sangat murka. Douwes Dekker memerintahkan membubarkan praktek tersebut. Douwes Dekker tak tahan melihat penduduk pribumi dijadikan budak oleh pejabat pemerintah yang seharusnya mengayominya. Douwes Dekker memilih mengundurkan diri dari jabatan prestisius tersebut. Jabatan yang kalaupun diperbolehkan, pasti menjadi rebutan berdarah-darah oleh para priyayi pribumi. *** Banten 1900-an. “Teriakan” Douwes Dekker tahun 1958 nampaknya hanya populer di negeri Belanda, di lapangan kolonial, penderitaan Rakyat Banten akibat pemerasan birokrasi masih terasa hingga tahun 1900-an. Raden Mas Tirto Adisoerjo menuliskan detail pemerasan rakyat Banten pada koran Medan Prijaji dengan judul yang sangat berani: “Kekejaman di Banten”. Meskipun kasus yang diungkapkan hanya menyangkut satu desa, Nembol, Kecamatan Mandalawangi, Cimanuk, Kab. Pandeglang. Tetapi pengungkapan kasus tersebut dapat dianggap sangat detail, bahkan dalam kacamata kemerdekaan pers seperti saat ini. Penyimpangan demi penyimpangan dituliskan pada koran yang dibaca tidak hanya oleh kalangan priyayi Pribumi, tetapi juga oleh para pejabat kolonialis. Dampak tulisan tersebut dapat dipastikan sangat luar biasa. Tidak kurang 19 kasus diungkapkan oleh Tirto. Dimulai dari pungutan liar dalam pembangunan balai desa Nembol yang dilakukan oleh Lurah Nada. Lurah Nada telah melakukan melakukan pungutan tersebut sejak tahun 1906, sampai tahun 1909 (saat kasus ini dilaporkan), balai desa yang akan dibangun tak kunjung dikerjakan. Selanjutnya Tirto mengungkapkan terjadinya mark-up (penggelembungan nilai proyek) hampir 50 % untuk pembelian batu koral di desa Nembol. Tirto membandingkan nilai satuan batu koral Desa Nembol dibandingkan dengan nilai satuan di desa tetangga. Tirto juga mengungkapkan terjadinya manipulasi kayu dari pekarangan pekuburan Nembol kepunyaan masyarakat desa untuk dijual pada Gouvernement buat perbaikan jembatan Mandalawangi. Penggelapan juga diungkapkan ketika Saluran Cimasan, Mandalawangi mendapatkan kerusakan pada tahun 1907, dan untuk membetulkan kerusakan itu sudah dikerjakan beberapa puluh orang desa dari beberapa ampihan desa. Orang-orang diperkerjakan dengan upah tetapi tidak diterimakan sampai tahun 1909. Korupsi, perampasan tanah, kebohongan, intimidasi diungkapkan sampai tuntas. Pemerintahan propinsipun dibuat kalang kabut. Berbagai langkah pun dilakukan. Tetapi, barangkali seperti lazim kita temui pada jaman sekarang, pada titik tertentu seringkali kasus-kasus yang melibatkan birokrasi selalu menabrak dinding tebal. “Pemeriksaan lalu dilakukan dan semua pengaduan sebagaimana tersebut diatas semua betul. Maka lurah diberhentikan, sesudah itu orang-orang desa disuruh teken sepucuk surat, yang tidak diketahui isinya dan buru-buru surat itu dibawa opas untuk diterimakan pada Regent” Selanjutnya Tirto menggambarkan black box kasus tersebut: “Bekas lurah itu tidak dituntut di muka hakim, hanya barang-barangnya dilelang sampai menghasilan f 800,- yang pembeliannya dibantu oleh lurah-lurah lain dan priyayi, dengan itu Nada (Mantan Lurah yang diceritakan diatas) lantas pergi ke Mekkah”. Selesai sudah episode pemberantasan korupsi oleh birokrasi pada tahun 1909 *** Banten 2006. Gubernur Propinsi Banten, Ketua beserta Wakil Ketua DPRD yang memilih Gubernur tersebut, harus menelan pil pahit. Divonis bersalah dalam salah satu kasus korupsi. Sekretaris Dewan, dan berbagai jabatan prestisius lainnya, termasuk beberapa anggota KPUD-pun juga sedang dalam proses menuju meja hijau. *** Setelah kita memahami bahwa Banten merupakan pesona Dunia, langkah kedua yang harus dilakukan untuk membangun peradaban baru Banten adalah bagaimana kita me-revitalisai birokrasi, melakukan rekayasa ulang seluruh tatanan pemerintahan, memformat roh baru pada birokrasi. Pekerjaan ini jelas sangat berat karena mis-manajemen birokrasi kita sudah berumur berabad-abad. Isu-isu miring tentang suap pada penerimaan PNS jelas menambah deretan panjang pekerjaan yang harus dilakukan saat revitalisasi birokrasi. Tanpa reviatlisasi birokrasi seluruh program akan sia-sia, karena birokrasi adalah mesin pemerintahan itu sendiri. (Penulis, Mantan Ketua HMI Cabang Surabaya 1986-1987, anggota Litbang PP Al-Khairiyah) |
| < Prev | Next > |
|---|



