Krakatau IT News

Home arrow Article arrow Sempil arrow Manajemen Berorientasi Hasil
Manajemen Berorientasi Hasil PDF Print E-mail


ImagePantai Anyer-Cinangka 23 Juli 2006. Tidak seperti biasanya, perjalanan itu berlangsung sangat lancar. Tidak banyak mobil-mobil ber plat nomor luar kota berseliweran di jalanan itu. Bahkan rombongan bis yang bagai kereta api di jalanan aspal, tak satupun nampak. Tulisan "kosong"; terpampang jelas hampir di setiap pintu-pintu masuk penginapan sepanjang perjalanan. Rintihan beberapa pedagang krupuk mulai terngiang di telinga, "Sepi...., hari ini belum satupun dagangan yang laku"

Tsunami memang belum benar-benar terjadi di pantai Anyer. Tetapi ketakutan dan kekalutan sudah mulai merebak di seantero wilayah. Penduduk maupun pengunjung semua sama-sama telah berancang ancang sejak Rabu 19 Juli 2006. Sesegera mungkin pengunjung angkat kopor, sementara penduduk telah siap siaga seharian apabila tsunami benar-benar terjadi.

Sampai hari Ahad, tsunami memang benar-benar belum terjadi, tetapi ketakutan telah membawa korban. Pengusaha hotel teriak karena hunian kosong. Tukang parkir tidak mendapatkan fee parkir. Restoran ikan bakar tidak lagi menggantang asap. Pedagang krupuk hanya bisa berjalan kesana kemari tanpa tahu kemana harus dijajakan. Pedagang baju menjajakan baju di pinggir jalan raya, pindah dari bibir pantai yang tak berpenghuni. Kios-kios wisata terpaksa menutup gerainya. Sepi.... Nglangut.

***

Fajar Banten, 22 Juli 2004, hal 3, Kesiapan Pemprov Hadapi Kemungkinan Bencana. "Pemerintah Provinsi Banten dengan melibatkan masyarakat telah, sedang dan akan melakukan berbagai upaya yang dianggap strategis dalam penguatan kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana".

Tidak kurang dari setengah halaman penuh langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintahan Propinsi dituliskan dalam media ini. Ada 7 pekerjaan yang telah dilakukan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat melalui Satkorlak. Dinas Kelautan dan Perikanan telah melakukan 4 pekerjaan besar. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga telah melakukan pelatihan 60 orang tentang teknik penyelamatan bencana.

Sementara BMG Serang telah memetakan "critical point" gempa bumi. Bapedal mengantisipasi dengan membuat prosedur tetap penaggulangan bencana di kalangan industri. Dinas Pertanian dan Perikanan lebih fokus pada bencana kekeringan.

Pendeknya Pemerintah Provinsi sudah bisa berkata "Kepada masyarakat, diimbau untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi yang terjadi sekarang ini. Jika tersiar kabar isu, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas terdekat. Selanjutnya, petugas tadi, mempertanyakan isu yang berkembang kepada pihak yang terus memantau kejadian/gejala alam"

***

Barangkali memang telah banyak pekerjaan dilakukan pemerintah. Hasil pekerjaanpun telah di laporkan, baik ke tingkat pusat, maupun kesamping, DPRD. DPRD "sebagai representasi rakyat " pun juga telah menerima laporan pertanggung jawaban pemerintah. Dengan demikian semuanya telah berjalan baik. Tidak ada yang salah.

Tetapi fakta di lapangan berkata sangat berbeda. Rabu, 19 Juli 2006 menjelang Maghrib gempa yang "hanya" berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang pantai selatan Propinsi ini. Dampak langsung memang tidak ada. Tetapi dampak tidak langsung, kepanikan warga di hampir seluruh Banten, terutama sekitar pantai sungguh luar biasa. Masyarakat berbondong-bondong menuju ke bukit. Sebagian panik tidak bisa tidur, sebagian berjaga-jaga di poskamling hingga dini hari.

Pariwisata, industri unggulan di sepanjang Pantai Anyer, Carita ditinggal para tamu. Tidak ada yang merasa perlu bersenang-senang ditengah ancaman dan kecemasan bencana. Check Out merupakan mantra pamungkas!

***

Penulis menjadi ingat, dalam teori manajemen, ada dialektika antara program berorientasi langkah, dan ada pendekatan yang lebih baru, program berorientasi hasil. Program berorientasi langkah hanya mengukur seberapa langkah program telah dilakukan, seberapa besar anggaran sudah terpakai. Pendekatan ini jelas tidak menghitung apa tujuan akhir dari program itu dibuat. Meskipun demikian selayaknya kita mengetahui apa sih tujuan akhir dari program tersebut.

Program berorientasi hasil lebih memprioritaskan pada hasil akhir yang ingin dicapai oleh suatu program. Tolok ukurnya lebih jelas, bila tujuan hasil tercapai, maka program tersebut tercapai.

Penulis tidak banyak mengetahui, bagaimana manajemen pemerintahan dikelola. Apakah kita memakai manajemen berorientasi langkah atau manajemen berorientasi hasil. Tetapi melihat langkah-langkah telah banyak dilakukan, sementara hasilnya masih minim. Jangan-jangan kita tidak menggunakan manajeman berorientasi hasil. Memang manajemen berorientasi hasil memerlukan pemimpin yang lebih cerdik, aparat yang lebih kreatif, lebih bertanggung jawab, dan lebih jujur.

(Penulis, Mantan Ketua HMI Cabang Surabaya 1986-1987, Ketua 1 STIKOM Al-Khairiyah, alamat email: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it )
 
< Prev   Next >
PT Krakatau Infomation Technology
Krakatau Steel Group
Wisma Baja 7th Floor Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 54 Jakarta telp +62215200732 fax: +62215200690
Gedung Krakatau IT Jl. raya Anyer Km. 3 Cilegon telp +622548317021 fax: +622548317022

Copyright © 1993 - 2010 PT. Krakatau Information Technology
Maintained on backstage by IT DIVISION
Framework By Joomla