| Kemandirian Industri Pertahanan |
|
|
|
“Kekalahan militer Israel adalah kemenangan penting bagi Moqawamah Islamiah, Hezbollah, Lebanon, dan semua ummat Islam di dunia” inilah pernyataan Hasan Nasrollah Sekjen Gerakan Perjuangan Hezbollah Lebanon saat menerima resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701, 14 Agustus 2006. Resolusi ini –secara de yure- telah memaksa Israel menghentikan agresi militernya selama hampir 5 pekan ke kawasan Lebanon Selatan, tanpa membawa bendera putih dari Hezbollah. Bahkan Hezbollah mengklaim telah menghancurkan 130 Tank Markava (tank andalan Israel), 48 kendaraan militer, 5 helikopter, 2 jet tempur, 3 kapal perang dan membunuh 415 serdadu Israel.
Bagi Hezbollah kemampuan bertahan menangkal segala serangan artileri paling canggih dari negara paling kuat di Timur Tengah tidak dilakukan hanya dalam waktu semalam. “Ini adalah perlawanan yang kami bangun dengan energi rakyat Arab,” ujar Hassan Nasrullah. Kemenangan ini sama sekali bukan mukjizat yang tiba-tiba datang, tapi usaha yang telah dibangun sejak lama, perlu keteguhan pada visi, misi, dan langkah-langkah peningkatan kemampuan internal. Tidak ada tenggat waktu yang pasti, tetapi bila kata waktu telah tiba, tidak boleh ada penundaan. Penundaan, keterlamabatan dalam lintasan proses manapun berarti tengkorak kematian telah datang. Inilah sejatinya budaya militer yang selalu harus dijunjung tinggi tidak saja oleh TNI kita, tapi harus menjadi pedoman hidup dalam segala segi. Tepat waktu saat rapat, undangan, hajatan, sholat, janjian, tentu termasuk didalamnya.
Ungkapan kemenangan Hezbollah menyisakan suatu spirit perlawanan baru untuk siap setiap saat melakukan pembelaan diri melawan kedigdayaan kaum agresor. Jadi pertempuran lanjutan di kemudian hari menjadi suatu keniscayaan. Kekalahan Israel juga pasti membawa konsekuensi introspeksi besar-besaran bagi pemerintahan Zionis tersebut. Tentu perhitungan kembali kekuatan lawan, dan keharusan mempersiapkan diri lebih baik lagi apabila ada kesempatan datang untuk menyerang atau diserang menjadi agenda Israel paling dominan.
Apabila memperhatikan peta Timur Tengah sebagai pemasok sumber daya energi (baca: minyak) paling utama di dunia ini, konflik pada wilayah ini dapat merembet menjadi konflik dunia. Apalagi sejak pagi-pagi, dari seberang benua, Hugo Chavez -Presiden Venezuela - penghasil dan pemasok minyak utama di Amerika - memberikan nada simpati pada perlawanan Hezbollah. Simpati Hugo Chavez pada kelompok yang dianggap “teroris” oleh Amerika Serikat, jelas merupakan mesiu yang bisa sewaktu-waktu bisa dipantik oleh siapapun. Apalagi Hugo Chavez dikenal sangat kritis terhadap kebijakan Amerika Serikat. Ancar-ancar meluasnya pertikaian antar negara adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Persiapan perangpun harus disiapkan oleh semua negara di dunia ini. Dalam sejarah kamus peradaban duniapun mengisyaratkan, negara yang memiliki kekuatan militer yang menggetarkanlah yang patut diperhitungkan. Tidak ada kata pasti tentang Perang Dunia ke 3 kapan bakal terjadi, tetapi apabila perang itu memang bakal terjadi, tanpa persiapan sejak dini, dapat dipastikan negara tersebut bagaikan boneka yang siap untuk dijadikan bulan-bulanan negara digdaya lainnya. Indonesia dengan bentangan pulau dari Sabang sampai Merauke, menjadi jembatan antar benua Asia-Australia, dan alur utama samudra Pasifik dan Hindia, menjadikan negeri kita bagaikan kapal induk raksasa yang siap diperebutkan. Kemampuan mempertahankan diri dari serangan musuh haruslah menjadi agenda kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara. Jika dan hanya jika kita ingin negara kita dapat tetap tegak berdiri.
Kemampuan pertahanan juga harus dibarengi dengan pembangunan industri pertahanan yang mandiri. Impor peralatan perang, selalu dibarengi dengan ketergantungan kita pada negeri pencipta teknologi tersebut. Apalagi beberapa negara pencipta teknologi memberikan syarat tambahan yang mengikat, meskipun kita telah membayar lunas mesin-mesin perang tersebut. Kasus embargo suku cadang pesawat F5, F16 dan Hercules terjadi hanya gara-gara penilaian AS bahwa kita telah melanggar Ham di Timor Timur. Kita tidak bisa menggunakan tank scorpion dari Inggris saat harus memberantas GAM di Aceh, hanya gara-gara GAM memiliki lobi kuat di Eropa. GAM dengan baik merubah isu-isu separatisme dengan pelanggaran HAM di Aceh.
Kita harus menyadari, dalam komponen harga suatu produk industri, terkandung biaya-biaya riset, kegagalan produksi, dan kurva pembelajaran. Ketiga komponen tersebut jelas dinikmati secara ekslusif oleh penemu teknologi dan industri, dan kita suka tidak suka harus membayarnya. Tidak ada tank sebelum ada riset tentang manfaat teknologi ini. Pesawat terbang tidak dibuat langsung bisa terbang, perlu melalui tahapan-tahapan kegagalan sebelunya. Sebelum ada peralatan canggih, teknologi selalu dimulai dari yang paling sederhana. Sebelum ditemukan mesin jet, pesawat terbang dimulai dari teknologi baling-baling. Sebelum ada Windows Xp, kita mengenal Sistem Operasi DOS. Sebelum ada televisi berwarna, kita hanya mengenal televisi hitam putih. Pendeknya, mereka semua menguasai teknologi tinggi berawal dari nol! Tetapi mereka diberi kesempatan dan kepercayaan, dan mereka memegang amanah tersebut. Spirit Hezbollah untuk selalu memacu semangat tanpa lelah, tanpa tahu kapan persiapan perang itu bisa digunakan harus menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Jarak ideologis kita yang Sunni (Ahli Sunnah wal Jama’ah), dan Hezbollah yang Syiah jangan sampai menghalangi kita untuk belajar dari mereka. Jangan sampai stigma “kompromi adalah kebijakan orang-orang yang lemah” menjadi tuah yang menimpa kita kaum sunni, yang memang dasar teologinya mengkrompromikan perbedaan pendapat diantara keempat Khulafaur Rasyidin. Kita buktikan teologi kita memang lebih benar daripada teologi kaum Syiah dengan perbuatan yang nyata di segala bidang kehidupan. Termasuk dalam bidang manajemen pemerintahan, pengelolaan kompetensi bangsa, dan kapabilitas sumber daya alam kita. Kita yang seringkali lemah dalam menterjemahkan mimpi-mimpi kita, harus segera kita tinggalkan. Sejarah kehebatan kita dalam menyusun kata-kata indah harus benar-benar menjadi pijakan yang sungguh-sungguh dalam berkerja. Politik luar negeri kita yang Bebas Aktif, adalah mantra suci yang benar-benar kita hayati. Jangan sampai kata itu menjadi terlalu indah untuk dikenang, dan menjadi batu nisan yang dibaca anak cucu kita, ketika mereka sudah tidak bernaung dibawah panji-panji negeri yang bernama Indonesia. Sudarmono MoedjariPemerhati teknologi dan budaya, saat ini Manajer Pengembangan Bisnis dan Sekretaris Perusahaan PT. Krakatau Information Technology. |
| < Prev | Next > |
|---|




“Kekalahan militer Israel adalah kemenangan penting bagi Moqawamah Islamiah, Hezbollah, Lebanon, dan semua ummat Islam di dunia” inilah pernyataan Hasan Nasrollah Sekjen Gerakan Perjuangan Hezbollah Lebanon saat menerima resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701, 14 Agustus 2006. Resolusi ini –secara de yure- telah memaksa Israel menghentikan agresi militernya selama hampir 5 pekan ke kawasan Lebanon Selatan, tanpa membawa bendera putih dari Hezbollah. Bahkan Hezbollah mengklaim telah menghancurkan 130 Tank Markava (tank andalan Israel), 48 kendaraan militer, 5 helikopter, 2 jet tempur, 3 kapal perang dan membunuh 415 serdadu Israel.
Ungkapan kemenangan Hezbollah menyisakan suatu spirit perlawanan baru untuk siap setiap saat melakukan pembelaan diri melawan kedigdayaan kaum agresor. Jadi pertempuran lanjutan di kemudian hari menjadi suatu keniscayaan. Kekalahan Israel juga pasti membawa konsekuensi introspeksi besar-besaran bagi pemerintahan Zionis tersebut. Tentu perhitungan kembali kekuatan lawan, dan keharusan mempersiapkan diri lebih baik lagi apabila ada kesempatan datang untuk menyerang atau diserang menjadi agenda Israel paling dominan.
Kemampuan pertahanan juga harus dibarengi dengan pembangunan industri pertahanan yang mandiri. Impor peralatan perang, selalu dibarengi dengan ketergantungan kita pada negeri pencipta teknologi tersebut. Apalagi beberapa negara pencipta teknologi memberikan syarat tambahan yang mengikat, meskipun kita telah membayar lunas mesin-mesin perang tersebut. Kasus embargo suku cadang pesawat F5, F16 dan Hercules terjadi hanya gara-gara penilaian AS bahwa kita telah melanggar Ham di Timor Timur. Kita tidak bisa menggunakan tank scorpion dari Inggris saat harus memberantas GAM di Aceh, hanya gara-gara GAM memiliki lobi kuat di Eropa. GAM dengan baik merubah isu-isu separatisme dengan pelanggaran HAM di Aceh.