| Kanjeng Nabipun Pernah Salah |
|
|
|
Senyum pahit wajah tua, dengan pandangan lelah itu menghiasi halaman muka hampir seluruh media masa kita, kamis pekan lalu. Tidak ada yang tidak kenal dengan wajah Beliau itu. Wajah ini adalah wajah yang selalu muncul di media massa penuh semangat tetapi terkesan agak angkuh sepanjang tahun lalu. Beliaulah yang telah menghantarkan proses Pemilihan Presiden langsung yang pertama di negara paling unik di dunia dengan selamat, tanpa gejolak, jujur, terbuka dan predikat demokratis lainnya. Tidak henti-hentinya puja-puji dari negara-negara besar, serta institusi-institusi terhormat di dunia datang menghampiri lembaga yang dipimpin lelaki tua ini. Tetapi, hanya berselang belasan bulan puja-puji tersebut berubah menjadi hujatan bertubi-tubi. "Korupsi berjamaah"; telah membalikkan kerja keras Sang Tokoh dalam membangun kredibilitas pribadi selama puluhan tahun. Lintasan hidup yang tidak ringan, penuh tantangan, kerja keras dan pengorbanan. Hanya orang-orang yang memiliki kualifikasi sangat tinggi yang bisa masuk pada jajaran perguruan tinggi tempat Sang tokoh menyelesaikan salah satu jenjang studinya. Kita dan anak-anak kitapun belum tentu mampu menembus kampus kandidat para pemimpin Indonesia tersebut, meskipun miliaran rupiah telah disiapkan dalam laci kita. Otak encer dan belajar ekstra keras menjadi prasyarat sebelum masuk perguruan tinggi, juga saat menyelesaikan studi. Sang Tokoh telah melakukan itu semua, bahkan Sang Tokoh telah membuktikan diri dapat diterima sebagai pengajar di perguruan tinggi tersebut. Sebagai pengajar, berapa ratus tulisan dan makalah telah diselesaikan, berapa galon air liur telah dihabiskan untuk membasahi bibir, ribuan kapur telah ditorehkan ke papan tulis. Bila predikat guru besar menyanding dalam namanya, tentu sangat sebanding dengan pengorbanan semuanya. Hanya karena kredibilitas yang sangat tinggi tersebut Sang Tokoh terpilih diantara tokoh-tokoh besar lainnya sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum. Sebuah lembaga lama yang telah diformat ulang sehingga memiliki otoritas dan kebebasan sangat tinggi. Garda depan perubahan menuju demokrasi yang sebenar-benarnya. Format baru memaksa Team yang Beliau pimpin bekerja keras siang malam tanpa mengenal hari libur. Apalagi undang-undang yang mengatur mekanisme pemilihan presiden dan legislatifpun baru dapat diselesaikan pada saat-saat menjelang Pemilu diselenggarakan. Kerja bak Sangkuriangpun harus dilakukan. Jadi bila dalam tekanan waktu Beliau beserta Team dapat menyelesaikan semua tugasnya dengan sempurna, tidak ada kata lain kecuali penghargaan yang setinggi-tingginya pada prestasi Sang Tokoh. *** Lelaki itu harus tegar dihadapan anak dan istrinya, vonis yang didapat baru tahap pertama, perlawanan masih belum berakhir, banding dan kasasi masih terbuka lebar untuk dilalui. Baginya, putusan tujuh tahun penjara dan denda 300 juta, serta membayar uang pengganti sebesar Rp 5,03 milyar dengan ancaman penyitaan kekayaan pribadi bila dalam tempo satu bulan tidak melunasi merupakan vonis yang sangat berat dan tidak adil! Perlawanan harus diteruskan! Tetapi, nampaknya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Sang Tokoh ini. Bukti-bukti yang sah dan pengakuan para saksi cukup susah untuk menguubah arah bandul ke pihak Beliau. Opini publik telah terbentuk, citra Sang Tokoh telah terlanjur tercoreng. Dunia telah berubah 180 derajat. Pendulum telah bergerak menuju titik bawah. Kenyataan kehidupan dalam lembaga pemasyarakatan harus menjadi kesadaran pribadi dan keluarga. Yang patut disadari, sejarah hidup belumlah berakhir. Kenyataan-kenyataan ini harus diambil sebagai pelajaran bahwa kita semua masih gampang tergoda oleh rayuan syeitan. Terlalu berat membendung arus birokrasi, dan budaya masyarakat di Indonesia yang sangat kental dengan budaya korupsi. Perlu kerja sangat keras dan keteguhan hati untuk keluar dari jebakan budaya dan kokohnya birokrasi ini. Kesadaran akan ketidak sempurnaan perjalanan hidup kita memberikan andil besar bagi kita untuk mensikapi dan membuat langkah-langkah positif ke depan. Permohonan ma’af, pertaubatan, istighfar, dan dzikir adalah jalan positif yang harus dilalui. Bukankah Nabi yang dijamin ma’sum-pun pernah berbuat salah? Kurang apa Nabi Adam yang hidup enak di surga, sehingga harus tergoda oleh bujuk rayu Siti Hawa? Atau Nabi Yunus yang harus melarikan diri dari medan da’wah? Masih ingatkah kita saat Nabi Muhammad disentil Allah karena bermuka masam, dan kurang perhatian pada seorang miskin saat perjamuan agung dengan orang-orang terhormat berlangsung? Pertaubatan, penyesalan menjadi kata kunci untuk melangkah kedepan. Hukuman, memang harus dilalui sebagai fase metamorfosa menuju hidup baru yang lebih bijak, untuk kita, lingkungan kita maupun keluarga kita. Hanya orang-orang bijak yang bisa memaknai hidup di dunia ini dengan lebih arif. Dan para Nabipun telah melakukan itu semua, dengan kadar yang beragam. (Sudarmono Moedjari , Mantan Ketua HMI Cabang Surabaya 1986-1987, pemerhati teknologi dan budaya, alamat email: This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it ) |
| < Prev | Next > |
|---|




Senyum pahit wajah tua, dengan pandangan lelah itu menghiasi halaman muka hampir seluruh media masa kita, kamis pekan lalu. Tidak ada yang tidak kenal dengan wajah Beliau itu. Wajah ini adalah wajah yang selalu muncul di media massa penuh semangat tetapi terkesan agak angkuh sepanjang tahun lalu.