| Potret dari Sahabat Sunyi |
|
|
|
Setiap hari kita bekerja, setiap hari kita loncat dari lembaran kerja yang satu ke lembaran kerja yang lain. Aka kalanya kita susah, ada kalanya kita senang. Ada kalanya suatu waktu kita dipindahkan dari pekerjaan satu ke pekerjaan yang lain. Kadangkala kepindahan pekerjaan memiliki makna promosi, dan tentu sedikit banyak menghasilkan penambahan tebal isi kantong yang harus dibawa pulang ke rumah. Lembaran tahunpun selalu berganti pasti, angka usia kerjapun selalu bertambah. Tidak terasa hampir mayoritas setiap diri kita telah membukukan angka diatas 15 tahun bekerja untuk Krakatau Steel Group. Apa yang sudah kita perbuat, apa yang telah kita dapatkan? Sebuah pertanyaan yang sangat adil, dan lazim kita perbuat. Tetapi, tidak bagi Sang Tokoh. Dia ditakdirkan hanya untuk menjawab, “apa yang harus saya buat”.
Sang Tokoh kita ini biasa dipanggil dengan sebutan Husein, bekerja sebagai karyawan sejak 1981, sehingga selama bekerja di PT KS, dia telah menghabiskan 25 kalender tahunan. Bila dihitung dengan angka abad, ia sudah mengabdikan diri selama seperempat abad yang lalu. Waktu yang tidak terbilang sebentar bagi sebuah perjalanan ketulusan. Perjalanan panjang telah dilalui, berbagai rintangan hidup telah dilewati. Pria yang sebelumnya ber”wirausaha”, berjualan makanan keliling di Jakarta ini segera banting setir ketika kesempatan menjadi karyawan yang bekerja untuk Krakatau Steel terbuka. Meskipun hanya sebagai tenaga kerja di salah satu sub kontraktor KS. Masuk pertama kali dia ditempatkan di Guest House. Selanjutnya pindah ke Dinas Telkom. Juga pernah mampir di SSP dan Gedung Teknologi, sebelum pada akhirnya menetap cukup lama di ADB sampai sekarang. Tidak kurang dari Pak Aidil Yuzar, Pak Ending Ridwan, Pak Supardi pernah dia layani. Hari-hari berlalu, dia lalui dengan istiqomah, tanpa bertanya seberat apa beban yang harus dipikul. Saat kawan-kawannya, karyawan organik Krakatau Steel sibuk menghantarkan anak-anak berangkat ke sekolah, dia sudah harus mulai berangkat kerja. Dengan berjalan kaki, dia ukir jalanan Cilegon untuk sampai di lokasi kerja, ADB. Pukul 07.00 dia sudah harus mulai bekerja agar ketika Sang Empu datang, segalanya sudah tertata rapi. Tentu kepuasan tiada tara apabila pekerjaan tidak mendapatkan complain dari Sang Empu ruangan. Bilapun Sang Empu telah datang, beban tugas Sang Tokohpun mulai menurun. Dia tinggal menunggu, sewaktu-waktu Sang Empu memerlukan bantuannya., dengan sigap diselesaikannya tugas-tugas tersebut dengan sepenuh hati. Tanpa jeda, tanpa menawar, dan tanpa menunggu waktu. Kesetiaan, taat pada tugas merupakan prinsip yang mengakar pada dirinya, tanpa dia merasakannya, tanpa dia menyadarinya. Tak ada dalam benak pikirannya untuk memanfaatkan kedekatan dengan Sang Empu untuk keperluan pribadinya. Bahkan dia merasa tidak perlu menceritakan beban hidupnya pada Sang Empu. Dokumen penting yang bertebaran, barang-barang berharga yang hanya dalam jangkauan 2-3 langkah kaki tak membuat dia silau untuk dimanfaatkan. Beban hidup satu istri, dengan beberapa orang anak di Kota Baja jelas tidaklah ringan, meskipun perusahaan selalu menyesuaiakan upah yang dia terima dengan perkembangan Upah Minimal Kota. Gali lobang, tutup lobang menjadi tradisi bulanan yang harus dilakukan untuk mempertahankan. Saat masih kuta, istripun harus membantu menambahkan nafkah keluarga. Usia yang semakin menggerogoti juga pasti membawa beban tambahan. Hidup ini harus dijalani, harus dinikmati. Demikian prinsip hidup lelaki yang mendapatkan pelajaran hanya sampai setingkat SLTP ini. Tak ada obsesi berlebihan, tak ada keinginan yang melebihi kemampuan. Hutang adalah biasa, tetapi tentu hanya digunakan untuk kebutuhan makan minum. Tak ada hutang tahunan, tak ada beban yang terlalu panjang. Mengeluhpun tidak ada dalam kamusnya. Hidup ini dijalani saja. Statusnya sebagai karyawan Cilegon Mandiri memaksa jalan hidup memang harus dilalui dibawah bayang-bayang kebesaran Krakatau Steel. Keempat anaknyapun juga harus hidup seadanya, tidak ada dalam kamus hidupnya “prestasi vertikal”, kualitas hidup anak harus lebih baik dari kualitas hidup bapak. Bila seruling sirine mulai dibunyikan, dan kebanyakan karyawan organik sudah harus meninggalkan gelanggang pekerjaan, maka babak baru pekerjaan pun dimulai. Dia harus membereskan sampah-sampah di meja, di lantai, di semua sudut ruangan. Gelas-gelas harus dicuci, piring harus dibersihkan. Lantai harus kembali mengkilat, meja-meja harus bisa untuk berkaca, kursi harus berjajar rapih. Lampu-lampupun harus dimatikan. Bila kelegaan telah tiba, waktu malampun mulai datang. Saatnya kaki mengayun kembali ke kontrakan idaman. Jam dinding menunjukkan angka 18.30. Kadangkala apabila Sang Empu harus menyelesaikan pekerjaan diatas jam 16.30, jam dindingpun berputar lebih lama. Tak ada kata lembur, tak ada kata kelebihan jam kerja. Nilai-nilai kesetiaan, amanah dan istiqomah jelas susah untuk ditandingi oleh kita, bahkan sekelas Manager Perusahaan sekalipun. Bila kelebihan jam kerja tidak pernah diperhitungkan, bila dia harus menyempatkan waktu Sabtu dan Ahad untuk mencuci gorden agar tidak mengganggu aktifitas kerja Sang Empu, tanpa bayaran tambahan, tentu status karyawan teladan patut untuk ditorehkan. Putra teladan patut dicermatkan. Bila ibadah wajib tak hendak ditinggalkan, bila puasa sunah menjadi idaman, bila keluh tak ada dihati, bila rokok yang makruh ditanggalkan, kita layak memperhatikannya. Kita yang ada diseberang - hanya karena berstatus pegawai tetap patut membuka hati kita untuk mengidolakan Sang Tokoh, meneladani Sang Tokoh. (**zaenudin, darmono**) |
| < Prev | Next > |
|---|




Setiap hari kita bekerja, setiap hari kita loncat dari lembaran kerja yang satu ke lembaran kerja yang lain. Aka kalanya kita susah, ada kalanya kita senang. Ada kalanya suatu waktu kita dipindahkan dari pekerjaan satu ke pekerjaan yang lain. Kadangkala kepindahan pekerjaan memiliki makna promosi, dan tentu sedikit banyak menghasilkan penambahan tebal isi kantong yang harus dibawa pulang ke rumah. Lembaran tahunpun selalu berganti pasti, angka usia kerjapun selalu bertambah. Tidak terasa hampir mayoritas setiap diri kita telah membukukan angka diatas 15 tahun bekerja untuk Krakatau Steel Group. Apa yang sudah kita perbuat, apa yang telah kita dapatkan? Sebuah pertanyaan yang sangat adil, dan lazim kita perbuat. Tetapi, tidak bagi Sang Tokoh. Dia ditakdirkan hanya untuk menjawab, “apa yang harus saya buat”.